Pernah nggak sih lo liat MotoGP Mandalika di TV dan mikir, “Wah, keren banget Indonesia bisa jadi tuan rumah event segede ini!” Tapi terus lo sadar, balapan ini cuma setahun sekali. Terus gimana dengan olahraga buat orang-orang kayak kita yang cuma hobi lari pagi atau main basket di lapangan dekat rumah?
Gue mau kasih tau sesuatu yang mungkin nggak lo liat di berita utama. Di balik gemerlap MotoGP yang bakal diselenggarakan di Mandalika 9-11 Oktober 2026 , ada cerita lain yang nggak kalah penting. Cerita tentang olahraga yang dibangun dari bawah.
Mandalika: Permata di Atas, Tapi Jangan Lupa Akarnya
Oke, gue nggak mau meremehkan MotoGP. Itu adalah pencapaian besar. Sirkuit Mandalika udah disiapkan sesuai standar FIM dan Dorna Sports, dan Indonesia bakal jadi tuan rumah balapan motor paling bergengsi di dunia . Ini adalah ajang yang memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi sport tourism global .
Tapi, gue mau ngajak lo ngeliat lebih dalam. Sambil pemerintah sibuk memoles sirkuit kelas dunia, ada gerakan lain yang berlangsung di Riau, di sekolah-sekolah, di lapangan voli, dan di turnamen sepak bola kampung. Gerakan yang membangun ekosistem dari akar.
Riau Bhayangkara Run: 13.000 Pelari Tahun Lalu, Target Lebih Besar di 2026
Lo mungkin nggak denger soal ini di TV nasional. Tapi di Riau, ada event lari yang tahun lalu diikuti 13 ribu pelari dari berbagai daerah . Namanya Riau Bhayangkara Run 2026, dan puncaknya bakal digelar 19 Juli di Mapolda Riau .
Yang bikin ini spesial bukan cuma jumlah pesertanya—tapi tujuan di baliknya. Event ini mengusung tagline “Run With Purpose, Move Forward With Riau” . Nggak cuma lari, tapi juga kampanye lingkungan. Kapolda Riau bahkan ngajak masyarakat untuk sadar akan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering terjadi di musim kemarau .
Dan yang lebih keren? Event ini udah punya sertifikasi World Athletics—standar internasional . Jadi ini bukan lari kampungan, tapi lari kelas dunia yang dimulai dari kepolisian daerah.
FIBA x MILO: Basket Dibangun dari Sekolah, Bukan dari Atas
Nah, kalo Riau fokusnya lari, ada gerakan lain yang fokusnya basket. 6 Mei 2026, FIBA dan MILO Indonesia resmi tandatangan kerjasama buat ngembangin basket di tingkat akar rumput . Dan ini didukung langsung sama Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Menpora Erick Thohir bilang, “Saya sangat mengapresiasi MILO dan FIBA atas komitmennya mengembangkan olahraga di sekolah” . Program ini bukan cuma turnamen. Targetnya melatih 100 guru dan 3.000 siswa SD di 100 sekolah di Banten, Makassar, Lubuk Linggau, Kendari, dan Samarinda .
Yang bikin ini serius? Mereka fokus ke pelatihan dan sertifikasi pelatih serta wasit basket . Guru-guru olahraga bakal dilibatkan dan disertifikasi lewat federasi. Ini adalah pembinaan berkelanjutan, bukan cuma acara seremonial.
FIBA COO Patrick Mariller bilang ini adalah “pencapaian strategis” buat mereka tahun ini . Dan MILO Indonesia—yang udah berdampak ke 50 juta anak di 300 kota selama 50 tahun—ngelihat ini sebagai kelanjutan komitmen mereka .
Piala Presiden 2026: 64 Klub dari 38 Provinsi
Nggak cuma basket dan voli, sepak bola juga. Piala Presiden 2026 melibatkan 64 klub Liga 4 dari 38 provinsi . Ini bukan turnamen elite, ini turnamen yang dibangun dari akar rumput.
Menpora Erick Thohir bilang, “Piala Presiden tahun ini adalah bukti bahwa sepak bola dapat menjadi alat pemersatu dan harus dibangun dari tingkat akar rumput” . Pertandingan digelar serentak di 16 kota dari 30 Mei sampai 11 Juni .
PSSI punya tujuan jelas: memastikan pembinaan sepak bola dimulai dari level terbawah dan meningkatkan kualitas klub lewat standar kompetisi yang lebih kuat . Juara dari berbagai turnamen lokal bakal maju ke Piala Presiden sebagai panggung nasional buat klub-klub yang selama ini jadi tulang punggung pembinaan sepak bola muda Indonesia .
Voli: Indonesia Jadi Tuan Rumah SEA V.League
Sekarang kita loncat ke Thailand. 15-19 Juli 2026, SEA V.League putra putaran pertama bakal digelar di Filipina . Dan yang bikin seru, Indonesia jadi tuan rumah putaran kedua pada 22-26 Juli 2026 .
PBVSI udah panggil 16 pemain untuk pemusatan latihan, termasuk Rivan Nurmulki dan Nizar Julfikar . Yang menarik, mereka juga kasih kesempatan ke tiga pemain debutan . Ini tandanya regenerasi berjalan.
Pelatih baru dari Brasil, Sergio Veloso, bakal menangani tim . Kombinasi antara pembinaan lokal dan pengetahuan internasional—ini adalah ekosistem yang sehat.
Yang Bisa Kita Pelajari
1. Olahraga Dibangun dari Bawah, Bukan dari Atas
Sirkuit Mandalika itu keren . Tapi tanpa pembinaan grassroot kayak Piala Presiden , FIBA x MILO , dan Riau Bhayangkara Run , kita cuma punya gedung tanpa isi.
2. Akses Itu Kunci
Riau Bhayangkara Run buka buat pelari internasional. Piala Presiden libatkan klub dari 38 provinsi. FIBA x MILO jangkau 100 sekolah di kota-kota yang mungkin nggak pernah dapet perhatian. Akses yang bikin bibit atlet ketemu panggung.
3. Kolaborasi Multi-Pihak Itu Penting
FIBA dan MILO dengan Kemenpora . Polda Riau ngadain lari internasional . PSSI dan pemerintah lewat Piala Presiden . PBVSI bawa pelatih Brasil sambil libatkan pemain lokal . Semua bergandengan tangan.
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Cuma Fokus ke Event Gede
MotoGP Mandalika itu keren banget. Tapi kalo kita cuma perhatiin yang megah dan lupa sama pembinaan akar rumput, kita kehilangan setengah cerita.
2. Nganggap Even Lokal Nggak Penting
Riau Bhayangkara Run mungkin nggak sepopuler MotoGP. Tapi dengan 13 ribu peserta tahun lalu dan sertifikasi World Athletics , ini adalah bukti kalo even lokal bisa naik kelas.
3. Lupa Dukung Atlet Muda
SEA V.League di Indonesia 22-26 Juli adalah kesempatan buat liat bibit-bibit voli kita. Jangan cuma heboh pas mereka juara, tapi dukung juga pas mereka bertanding.
Intinya: Olahraga Itu Dibangun dari Dua Arah
Jadi, MotoGP Mandalika itu penting. Tapi di balik gemerlapnya, ada cerita lain yang nggak kalah penting: Indonesia lagi bangun olahraga dari akar.
Riau Bhayangkara Run, FIBA x MILO di 100 sekolah, Piala Presiden dengan 64 klub Liga 4, SEA V.League di Indonesia—ini semua adalah bukti kalo kita serius.
Bukan cuma bisa jadi tuan rumah event besar, tapi juga membangun ekosistem olahraga dari akar rumput. Dari sirkuit Mandalika ke lintasan Riau, dari panggung dunia ke lapangan sekolah—Indonesia olahraganya lagi naik kelas.